Menyentuh! Karya Puisi Santri untuk Memperingati Hari Santri Nasional


Lomba cipta karya puisi (Dok. Mahad Ulil Albab Lilbanat)


Semarang- (24/10/23) Untuk memperingati Hari Santri Nasional (HSN) Mahad Ulil Albab Lilbanat memberikan wadah bagi santri untuk menuangkan ekspresinya. Salah satunya adalah cipta karya puisi. 

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang mengandung makna yang mendalam. Didalam puisi tidak hanya memperhatikan keindahan kata namun arti dan makna yang tersirat tentunya dapat membangkitkan daya tarik penikmat puisi. Nah, kali ini kami memaparkan hasil karya santri Mahad Ulil Albab Lilbanat yang tentunya ga kalah keren. Yuk simak puisi berikut!


Permata Negeri

Oleh : Rahma Azkiyah Febriyanti

 

Sarung, peci, jilbab, tak lupa kitab suci

mengaji, mengabdi, beradab santun pada kyai

ikhtiar, ilmu dan barokah yang dicari

Santri

Itulah gelar becik nan bestari yang tak pantas dicendala

Berakhlaqul karimah tentu jadi pedoman utama

Penuh harap ilmu berfaedah yang berguna

Sebagai pencerah zaman, mengabdi untuk agama dan bangsa

Santri

Itulah gelar dari kyai kepada pengalap ilmu

Zikir dan tirakad menjadi pegangan yang menggebu

Supaya menjadi jiwa yang suci dan taqwa kepada ilahi

Membangun peradaban dengan cendekia islami

Santri

Itulah gelar penghuni penjara suci

Yang belajar ilmu, menggapai mimpi yang tertinggi

Menatap masa depan, dengan semangat berapi-api

Demi majunya sang bumi ibu pertiwi




 Oh Amboi 

Oleh : Reinanda Pramudita


Bismillahirrahmanirrahim 

Tuanku soedirman ucapkan kala nippon dan NICA menyerbu 

Gundahku membumbung menyesap awan biru 

Aduh, sudah 2 dasawarsa namun masihlah kekal kagumku 

Hari ini, pada Dikau yang darahnya mengalir membentuk lembah pada rumputan perdu 

Ikhlas keluarga menjadi harga pasti kepergianmu 

Daku masih lagi mengingatmu 


Bismillahirrahmanirrahim 

Kitab ini mulai penuh 

Daku bahkan tak tertatih menyusuri Yogyakarta lereng Gunung Wilis hingga Pacitan 

Namun mengapa sukmaku pedih?

Kuraba namun tak kutemui arahnya, Ah rupanya Daku resah 

Akan apa yang Kuberi, sebab diri masih utuh sedang Indonesiaku sedang Gundah 

Santri, terseok dalam jalan keilmuan 

Kitabnya penuh namun hatinya rapuh 

Oh Amboi, bagaimana Khidmatmu pada negeri nak

Tidak sekalinya tidak

Saat santri mulai memahami nadhomanya, tak hanya dikau hafal Alfiyah dan Imriti 

Sambil bersemangat mengaji Fathul Izhar, maka Indonesia yang gagah bukanlah fana hayal belaka 

Ia Nyata, teringatlah Kita pada seruan Abah Hasyim Asyari menyerukan Resolusi Jihad 

Bagaimana takdzim-nya santri berbondong-bondong menyerukan kemerdekaan mengusir NICA 

Allah

Jangan mati, sebelum Dikau pahami Santri itu kunci, pada kegundahan negeri ini?


Menuang Dama (Kebaikan)

Oleh : Irmanika, Siti Rohana


Menuang Dama

Kusimpan rintik

Pada tubuh detik

Melaju ke arah titik lalu terhenti di kertas pudar secarik

 

Oh indahnya senja

Hanya padamu kurangkai kata aksara penuh romansa,

 Temani aku menuang dama

 

Memacu napas yang terembus.

Lari kencang menembus

Syair meluap arus Datang seakan membius.



SANTRI AKSARA NEGERI

Oleh: Naili Ni’mal Muna

 

Langkah kecil seorang santri

Perjalanan jauh harus terlewati

Tentang angan yang menjulang

Tiada henti tuk gapai asa

Kuingat negriku tercinta bersama cita-citanya

 

Perjuangan dulu nan kini sangatlah keras

Mereka yang dulu gugur maka kita siap bertempur

Jalanku mencari ridhoMu

Untuk negriku,

Tak kan pernah letih dalam ayunan rasa

 

Roda penggerak bangsa

Tentang siapnya santri sebagai muda mudi bangsa

Tombak yang telah disiapkan

Tombak yang paling kuat diantara senjata masa kini

Rasa percaya kepadaMu

Ikhlas terhadap jalanMu

Kerja keras mencari ilmuMu



PERJUANGAN SANTRI ERA KINI

 Oleh: Laila Lutfi H


Puluhan windu lamanya

Pahlawan bertarung dengan bambu runcingnya

Para ulama berjuang dengan jiwa raganya

Para mujahid beragresi dengan seluruh keberaniannya

Agar umat tak lagi sengsara

 

Sekarang alam nusantara telah terbebas

Pemerintahan kian bertumbuh luas

Kini perjuangan bukan lagi menghalau penjajah

Tapi satukan ideologi agar tetap searah

 

Era kini penjajah berasal dari dalam diri bangsa

Para penguasa yang dzolim dengan masyarakatnya

Para radikal yang ingin memecah persatuan

Terorisme yang ingin menghancurkan peradaban

 

Negeri ini butuh kalian wahai santri

Para pendahulu telah berjuang menyusun konstitusi

Kini saatnya kita menjawab tantangan globalisasi

Turut serta membangun negeri

Negeri pertiwi anugerah Ilahi

 


Anganku Tentang Merah Putih

Oleh : Lailatul Fitriyah 


Merah putih berkibar dengan gagahnya 

Sedang aku mematung dibawahnya 

Ku pandangi kibaran Indahnya 

Teringat kisah pedih perjuangannya 


Begitu hebat perjuangan pahlawan 

Kucuran darah dan nyawa pun di berikan 

Demi sebuah kemerdekaan 

Yang sudah sepatutnya kita banggakan 


Sabang sampai Merauke rakyat pribumi 

Tak lupa kyai dan santri 

Berjuang untuk kemerdekaan RI 

Menjaga persatuan dan kesatuan NKRI 


Tidakkah kita sadari dalam diri mengalir darah perjuangan 

Dimanapun kita berdiri 

tetap gelorakan jiwa pejuangan 


kini merah putih berkibar megah tak gentar diterpa hujan badai 

kita adalah generasi santri muda yang tak seharusnya letih 

menjaga bangsa Indonesia di era saat ini dan seterusnya nanti



Santri Mengabdi

Buah Karya: Ani Safitri

 

Ketika mentari merekah di pagi hari

Mulai derap langkah seorang santri

Menyongsong esok dengan mengaji

Khusyuk sujud yang melekat sajadah dengan dahi

 

Menyaturasakan niat

Menuntut ilmu yang diikuti tekat

Mengolah pikir untuk apa yang akan diperbuat

Tak sedikit pula yang melakukan tirakat

 

Dengan segenap rasa untuk menjemput ikhlas

Kami karungi doa orang tua untuk mengurangi malas

Agar segala hambatan bisa kami tangkas

Menjemput ilmu dari berbagai kelas

 

Kyai, apabila santrimu ini haus akan ilmu

Namun, tak ada usaha untuk maju

Aliri kami dengan lautan ilmu

Agar kami terisi dengan barokahmu

 

Ketika santri sedang mengabdi

Segala tunduk kita haturkan kepada kyai

Kita niatkan segalanya untuk mengaji

Semoga kelak mendapat berkah illahi



Sajak Untuk Santri 

Langkahnya terdengar samar

Namun tekadnya tak pernah gentar

Kesantunan menjadi identitasnya,

bukan berarti ketegasan menjadi sirna

Prinsip di pegang teguh

Wirid dan dzikir menjadi peneduh

Kala negeri ini kian gaduh

Santri hadir bagai lentera di tengah gulitanya malam

Tak perlu berkoar-koar untuk di dengar

Tak perlu melakukan kekerasan untuk mencari perhatian

Berbekal ilmu pengetahuan,

meredam semua persoalan dengan perdamaian

Santri sebagai pengendali peradaban

Dengan iman dan ihsan, berjuang penuh keihlasan

 


 Bukan Sekedar Cinta

 Karya : Atika 


 Tak ada suatu yang nyata tanpa bukti 

 Menjadi ilusi jika sekedar motivasi 

 Yang katanya NKRI harga mati 

 Mana?! ini yang masih perlu direnungi 


 Terlena dengan kata cinta 

 Tapi aksinya, hanya fiktif belaka 

 Lalu, bagaimana dengan kita? 

 Yang karyanya ditunggu Indonesia


Peluh dan lara menjadi saksi bisu 

 Atas perjuangan yang dituju 

 Tetap bertahan walau pilu 

 Karena kita, Santri yang perannya ditunggu


Itu dia kumpulan karya puisi dari santri Mahad Ulil Albab Lilbanat. Gimana keren-keren bukan?  nantikan karta-karya kami berikutnya.

Penyunting : Rahma Azkiyah F

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Santri Ulil Albab Meriahkan Malam Puncak Hari Santri Nasional 2025

Opening Activities Ma'had Ulil Albab Lil Banin Wal Banat

Masa Orientasi Santri Baru Ma'had Ulil Albab Lil Banat